Test Your
Taste
Author :
FIN
Genre :
Romance, comedy, AU
Length :
Chapter
Rating :
PG-15
Cast :
Ahn Hye Jin | Kim Jong Dae | Zhang Yi Xing | Huang Zi Tao
Disclaimer : All cast here belong to themselves, and
the poster belong to Sulis. T, but the
story is mine
Note : This story are inspired by
“Pasta” kdrama. So, some scene maybe have a similarity with that drama. And big
thanks to Sulis the one who made poster for this ff. Last, enjoy J
Wajahku yang sudah kusut bertambah kusut seusai
melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Kupandangi
makanan yang sudah dingin di hadapanku ini dengan perasaan berkecamuk, jika
saja bukan karena janji yang kubuat itu, ck. Pada akhirnya aku hanya bisa
menenggak minuman yang ada dalam tas ranselku ini, dan menatap nanar hidangan
yang telah kupesan dengan menu yang tidak berubah selama tiga hari ini.
Kupandangi lagi jamku, lima belas menit lagi jika tidak datang aku akan pulang,
batinku geram. Dan ya, lima belas menit itu berlalu dengan cepatnya, membuatku
kembali menunggu dengan sia-sia untuk yang ketiga kalinya. Kaki ini pun
melangkah keluar dari restoran dengan geram, moodku sedang tidak baik sekarang
bahkan amat sangat tidak baik! Aku tidak akan pernah menuruti permintaannya
lagi.
Sesampainnya
di apartemen, kuputar secara acak daftar laguku sembari meredam amarahku dengan menggigit guling,
namun yang ada amarahku semakin menjadi apalagi ketika lagu The Space Between yang dinyanyikan oleh
Soyu ft Urban Zakapa terdengar berkali-kali, karena sudah tak tahan akhirnya
kujawab panggilan masuk di ponselku itu. Ya, itu merupakan nada dering ponselku.
“Mwoya!”
kusembur orang yang meneleponku sebelum dia sempat mengucapkan salam.
“Tenanglah
Hye Jin-ah, kenapa kau marah-marah.”
“Kenapa?
Ini semua karena kau gege!”
“Karena
gege?”
“Iya
ini semua karena gege. Tiga kali,
sudah tiga kali gege membohongiku dan
membuang waktuku sia-sia, membuatku seperti orang bodoh yang menunggu sampai
jam makan siang usai, tapi gege tak
pernah datang!” habis sudah kesabaranku
menahan amarah dan rasa kesal yang sedari tadi bergejolak, dadaku naik turun
usai mengucapkan segala kekesalanku pada orang di sambungan seberang.
“Hye
Jin-ah denngar, kau tidak melupakan perkataan gege tempo hari kan.” Aku
hanya diam tak membalas ucapannya, lebih memilih mendengarkan kata apa yang
akan diucapkannya, meski aku sudah memprediksi kata apa yang akan diucapkannya.
“Aku yakin kau masih mengingatnya, jadi kau tahu kan kenapa gege tidak datang.”
“Ya,
aku ingat tapi apa gege juga lupa
jika aku tidak akan memakannya sebelum gege
datang!” klik. Aku sungguh tidak
tahan lagi. Aaaarrrggghhh! Kulepas baterai ponselku dengan brutal lalu
menaruhnya kasar ke nakas samping tempat tidurku.
***
Ini
sudah hari ketiga semenjak aku mencopot baterai ponselku, mencoba
menghindarinya, tapi kurasa hatiku sedikit membaik sekarang jadi jika gege menghubungiku lagi mungkin akan aku
angkat. Dan yeah, seperti yang kuduga banyak panggilan tak terjawab serta pesan
yang bisa dikategorikan dalam peneroran -jika ini merupakan kasus kriminal-
sesaat setelah kupasang baterai ponselku. Aku tak berniat membaca pesannya
karena aku yakin inti dari pesan itu sama saja, aku lebih memilih membaca buku
catatanku meski itu juga sama membosankannya. Hoaaammm… astaga tumben sekali
aku sudah mengantuk padahal ini belum jam sebelas malam, kulanjutkan lagi
kegiatanku sebelumnya, namun lagi-lagi aku menguap. Oh baiklah mataku sudah
tidak kuat lagi, lebih baik aku tidur saja.
Sudah
kesekian kalinya pemuda itu memencet tombol bel pada pintu apartemen yang
bernomor 408 ini, namun tidak ada tanda-tanda bahwa sang tuan rumah akan
membukakan pintu. Hey, lagipula mana ada orang yang bertamu jam 01.00 dini hari
itu kan bukan waktu ideal untuk bertamu. Jadi, jangan salahkan tuan rumah jika
tidak membukakan pintu untuk tamunya itu. Pemuda itu masih berharap pintu di
depannya terbuka meski ini sudah satu jam berlalu, dia juga tak hentinya
menelepon ponsel si pemilik rumah, meski matanya sudah memerah dia tetap tak
menyerah memencet bel apartemen di hadapannya ini, hingga akhirnya dia sudah
mulai lelah dan bersandar pada pintu sembari memejamkan kedua matanya,
terlelap.
Ingatkan
Hye Jin bahwa dia memiliki jadwal kuliah pagi hari ini sehingga dia bisa segera
bangun bukan malah merapatkan selimutnya.
“Hoammm…eung
jam setengah tujuh.” Dengan santainya dia
berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur setelah bangun tidur dan
melihat jam di nakasnya. Dan astaga sempat-sempatnya dia berendam padahal dia
ada jam kuliah pukul 08.20 nanti. Seharusnya dia menaruh jam dinding juga di
kamar mandinya, bukan hanya di ruang tamu dan kamar tidurnya saja! Bahkan dia
masih bisa menikmati acara mandinya meski bel apartemennya terus berbunyi.
“Baiklah,
baiklah tunggu sebentar.” Aku bergegas keluar kamar mandi hendak membukakan
pintu apartemenku setelah menyadari bunyi menjengkelkan dari apartemenku.
Namun, langkahku semakin melambat ketika melihat jam dinding yang tergantung
tepat diatas televisi yang berada di ruang tamu. Aku terpaku ditempat melihat
dengan pandangan ngeri ke arah jarum jam yang terus berputar lalu kemudian beralih
ke arah suara bel.
Tik tok tik tok, jarum jam. Ting tong ting tong, pintu apartemen. Tik tok tik tok, jarum jam. Ting tong ting tong, pintu apartemen. Tik tok tik tok, ting tong ting tong.
Astaga rasa-rasanya aku ingin menjerit saja. Argh molla! Geramku sembari menuju pintu apartemen
menghiraukan jarum jam yang terus berputar menunjukkan pukul 07.00 tepat.
CKLEK!
“Eoh.”
“Ah
maaf mengganggu di pagi hari nona.”
“Ah
gwaenchana, memangnya ada apa Pak
Kim?”
“Begini
nona, dari kemarin malam tuan ini berada di depan pintu apartemen anda, saya
hanya ingin memastikan apakah anda kenal dengan tuan ini.” Kumiringkan kepalaku untuk melihat lebih
jelas orang yang sedang dibicarakan oleh petugas keamanan apartemen ini. Mwo! Cepat-cepat kutegakkan kepalaku
ketika melihat wajahnya. Astaga dia benar-benar melakukannya. Ini sungguhan?
“Nona…nona.”
Segera
kutarik tangan orang yang berada di belakang Pak Kim setelah tersadar dari
lamunanku, sehingga membuatnya berdiri tepat disampingku.
“Nde saya mengenalnya, maaf telah membuat
keributan. Jeongmal mianhae.” Ujarku sembari menundukkan kepalaku dan
memaksa orang di sebelahku melakukan hal yang sama juga.
BLAM!
“Ya
ge, sebenarnya apa yang gege pikirkan. Arrrghhh!” omel Hye Jin setelah menutup pintu apartemen
dan duduk di ruang tamu.
“Mianhae.” Kening gadis itu membentuk kerutan ketika
mendengar orang yang duduk disampingnya berujar seperti itu, Hye Jin tahu kalau
ucapannya itu wajar tapi nada bicaranya terdengar aneh di telinga Hye Jin.
“Hye
Jin-ah…gege sungguh menyesal untuk
hal yang kemarin. Gege sudah mencoba menjelaskannya melalui ponsel
tetapi nomormu tidak bisa dihubungi. Jadi Hye Jin-ah kau mau memaafkan gege tidak?” ok suruh seseorang mengingatkan Hye Jin untuk
menutup mulutnya yang sedikit terbuka *jaw
drop* mendengar permintaan maaf dari gegenya.
Kedip
kedip…oh tunggu, tunggu kenapa Hye Jin malah meraih telapak tangan gegenya?
“Ge, igeon
(ini) kenapa bisa seperti ini?”
“Mwo?”
kurasa tanggapan dari orang ini sangatlah wajar, bagaimana tidak, mengingat
orang yang diajaknya berbicara malah membicarakan hal lain, hhh.
“Hye
Jin-ah…tolong lihat dan dengarkan gege
dulu.” Pinta pemuda Cina ini dengan
lembut sembari menggenggam telapak tangan Hye Jin. “Jaldeuro (dengar) gege minta
maaf, benar-benar minta maaf untuk kejadian yang lalu, mianhae.” Dan akhirnya
pemuda Cina itupun memutus kontak mata ketika mengucapkan kata yang terakhir.
Helaan nafas berat keluar dari hidungnya usai mengucapkan hal itu, seolah
tengah melepaskan beban melalui helaan nafasnya.
“Gege.” Hye Jin pun memeluk erat pemuda
disampingnya ini karena tak tahu lagi harus berbuat apa, mencoba mengungkapkan
perasaannya melalui pelukan ini. Tak sengaja matanya melirik jam dinding yang
terletak di ruang tamu tersebut, matanya membola melihat angka yang ditunjuk
oleh jarum jam tersebut.
“OMO!”
TBC
(To Be Continued)



