Author : FIN
Length :
Twoshoot
Genre :
Angst, Sad, Hurt, Comfort, Fantasy
Cast :
Kim Jong In / Kai
(OC)
Oh Se Hun
Disclaimer :
All cast here Belong to themselves but the story is MINE. The poster belong to mdf
Note : Inspired by the one sentence
in the Lean On and Blame lyric. They stuck crazily in my head and BOOM! I make
this fanfic as my temptation. So, enjoy my story J
Chapter 1 : Lean On
Not we but I, who need someone or
somebody
The subject
But you, who are the part of ‘we’
Lean on…
Dentang
dari jam kuno yang kini menggema ke seluruh penjuru rumah itu dihiraukan oleh
seorang gadis yang tengah menyusuri tangga dengan tergesa, lalu dengan kasar
membuka pintu depan rumah tersebut. Mata gadis itu terlihat gelisah ketika tak
menemukan apa yang tengah diharapkannya, hanya pepohonan dan hamparan
rerumputan berwarna hijau yang didapati retinannya. Dia menghela nafas lirih,
dengan gontai kembali masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah di lantai dua. Didudukan
tubuhnya pada sebuah sofa dengan menumpukkan dagunya di lengan sofa tersebut,
matanya kembali menerawang, memandangi halaman depan rumahnya yang nampak dari
kaca tempatnya duduk kini, sekali lagi, untuk beberapa jam kedepan, bahkan ini
sudah kesekian kalinya. Namun kian lama mata gadis itu memberat seiring warna
awan yang kini berubah menjadi hitam pekat setelah sebelumnya berwarna cerah.
“Tidurlah
dengan nyenyak.” Tubuh gadis yang
bagaikan kapas itu, kini telah berpindah ke sebuah kamar. Ketika itulah tubuh
gadis itu menjadi sebuah obyek, dari sebuah subyek yang kini tengah memandang
sendu obyek nya.
Cahaya
yang hangat itu memilih untuk tidak menyapa hari ini, membiarkan awan gelap
tetap menyelimuti sedari kemarin. Keadaan ini hampir sama persis dengan hati
sang gadis yang terjebak dalam kegelapan. Sebuah senyuman miris tercetak dari
bibir gadis itu ketika melihat pemandangan yang dilihatnya, dia serasa diolok
oleh warna pepohonan dan rerumputan yang tetap hijau, tidak berubah menjadi
hitam seperti warna awan yang menyelimuti pagi ini. Dia juga tertawa menyadari
bahwa gelapnya awan itu tidak segelap kegelapan yang menyelimuti hatinya. Ya,
kini dia tengah kembali pada kegiatannya, memandangi halaman depan dari kaca
ruang tengah lantai dua, sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
“Nona,
tuan menunggu anda.” Kuhela nafasku
sebelum berdiri dan mengikuti langkah tangan kanannya yang menuntunku menuju
halaman depan.
Aku
berdiri terdiam tanpa ada niat untuk berjalan mendekat kearah orang di hadapanku
ini, kupejamkan mataku sejenak lalu memandangnya lelah, kupejamkan lagi mataku
mencoba meyakinkan diriku sendiri tentang apa yang kulihat. Dia sudah berdiri
tepat di hadapanku ketika aku membuka mataku.
“Tidak
mungkin.” Gumamku ketika melihat warna rambutnya
yang telah berubah
“Subyek,
dan itu mutlak.” Nafasku tercekat
menyadari arti dari ucapannya, sembari menahan perasaan sesak yang
melingkupiku. Kucoba menenangkan diriku sebelum mengucapkan sebuah kata.
“Kau
tahu hal apa yang kubenci?” Kujeda sejenak
perkataanku ingin mengamati perubahan mimik muka orang di samping kananku ini
“Hitam. Tetaplah dengan kemutlakan itu.”
Desisku pelan, membuatnya menghembuskan nafas lelah serta memandangku
tanpa menunjukkan ekspresi wajah berarti, lebih memilih untuk melangkahkan
kakinya, keluar dari halaman depan dengan aku, yang hanya bisa mengikutinya.
“Tinggalkan
kami berdua.” Aku hanya diam sambil memandangnya. Sedikit terkejut dengan
perintahnya barusan
“Tapi
tuan-” ucapan Chan Yeol -sang tangan
kanan- terputus ketika dia memandangnya tajam, menunjukkan dominasinya “Kami
akan menunggu anda disini.” Ujar Chan Yeol sembari menunduk memberi hormat yang
diikuti oleh enam orang lainnya. Dan kami berjalan semakin dalam menuju hutan
meninggalkan Chan Yeol dan anak buahnya di perbatasan antara hutan dan halaman
depan.
Nafasku
kini seirama dengan langkah kami yang berjalan dengan perlahan, membuat detakan
jantungku keluar dari ritme normalnya, semakin dalam hutan yang kami masuki
maka semakin berat pula helaan nafas yang kukeluarkan, nampaknya aku akan
mencapai titik terendahku. Mataku terbuka lebar ketika merasakan sensasi
sengatan aliran listrik yang mengalir pada tubuhku, membuat jantungku kembali
pada ritme normalnya, lalu kulihat tangan kananku yang kini tengah digenggam
olehnya. Heh, pantas saja. Senyum miris pun tercetak ketika kusadari takdirku,
takdir yang tak bisa ku sangkal.
“Lenyapkan
keinginanmu untuk menyangkal takdirmu itu.”
Suara dingin itu memasuki indera pendengaranku, dia mulai menggunakan dominasinya
kepadaku, cih!
Tapi
tunggu, aku merasakan hawa yang lain ini…ini…tidak mungkin. Mataku memandang
sekeliling untuk memastikan, namun hanya jalan setapak yang kulihat. Ottokhae? Ijeya ottokhae! Kulihat genggaman tangannya semakin mengerat pada telapak
tanganku, bahkan langkahnya kian cepat, kupandangi lagi jalanan setapak yang
terlewati itu yang kian menjauh. Namun, lagi-lagi aura subyeknya mendominasiku,
membuatku mau tak mau berjalan mengikuti langkahnya. Aku harus bertindak,
sebelum jalan setapak itu benar-benar lenyap dan tak bisa kujangkau lagi,
tekadku.
BETZ!
Tanganku berhasil terlepas dari genggamannya, dengan segera kulesatkan kaki ini
menuju arah sebaliknya, sebelum detakan jantungku keluar dari ritmenya lagi. Pandangan
mataku kian meredup dan perlahan menampakkan satu warna saja, hitam! Seolah
mengejekku dan mengingatkanku akan takdirku kembali, bahkan hitam itu kini
menjadi lebih pekat seiring nafas yang kian memberat dan suara itu, aku dapat
mendengarnya dalam kepalaku.My mind in
whirls, titik terendah. Tidak! Aku sungguh kesakitan, bahkan untuk keluar
dari keadaaan ini aku tak mampu. Kakiku yang sebelumnya masih mampu menopang
berat tubuhku, kini terasa melemah membuat tubuhku dengan perlahan oleng ke
samping kiri dan menghantam tanah yang kupijak, tepat pada saat itu the wind stern in my face, membuatku
menjadi obyek untuk kedua subyek. Meski nyatanya hanya ada satu subyek. Namun,
bagiku hanya dia sang subyek sejati, menampilkan fakta tentang sang subyek
sesungguhnya, yang memiliki warna yang paling kubenci.
“May I, can I, or have I too often?...”
samar-samar kudengar sebuah suara dalam gelapku, suara yang kurindukan,
takdir hatiku, dan bisik lirih itu “...Wishing
to be your fate.” Membuatku terhenyak, sebelum
jantungku tak ada ritme, kehilangan kendali atas sistem syarafku sendiri, sampai sengatan
listrik itu kembali mengalir dan terasa dalam darahku.
“I’m sorry it’s not him, it’s me.” Nafasku terengah ketika merasakan sensasi
sengatan listrik yang maha dahsyat itu,
membawaku keluar dari titik terendahku, meski pening ini masih tersisa. Pikiran
dan hatiku kian menggila menghadapi bahwa pemuda bersurai hitam kelam itu
adalah benar sang subyek. Oh Se Hun dengan segala kemutlakan, sang subyek.
Tidak! aku benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja menyadari dia -yang kini tengah berambut pirang- berdiri di belakang Se Hun –Kai-.
But the night are long
Longing for you to come home
All around the wind blows
We would only hold on to let go
Blow
a kiss, fire a gun
We
need someone to lean on
TBC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar