Jumat, 22 Januari 2016

Test Your Taste




Author             : FIN
Genre              : Romance, comedy, AU
Length             : Chapter
Rating              : PG-15
Cast                 : Ahn Hye Jin | Kim Jong Dae | Zhang Yi Xing | Huang Zi Tao
Disclaimer       : All cast here belong to themselves, and the poster belong to Sulis. T,  but the story is mine
Note                : This story are inspired by “Pasta” kdrama. So, some scene maybe have a similarity with that drama. And big thanks to Sulis the one who made poster for this ff. Last, enjoy J


        Wajahku yang sudah kusut bertambah kusut seusai melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Kupandangi makanan yang sudah dingin di hadapanku ini dengan perasaan berkecamuk, jika saja bukan karena janji yang kubuat itu, ck. Pada akhirnya aku hanya bisa menenggak minuman yang ada dalam tas ranselku ini, dan menatap nanar hidangan yang telah kupesan dengan menu yang tidak berubah selama tiga hari ini. Kupandangi lagi jamku, lima belas menit lagi jika tidak datang aku akan pulang, batinku geram. Dan ya, lima belas menit itu berlalu dengan cepatnya, membuatku kembali menunggu dengan sia-sia untuk yang ketiga kalinya. Kaki ini pun melangkah keluar dari restoran dengan geram, moodku sedang tidak baik sekarang bahkan amat sangat tidak baik! Aku tidak akan pernah menuruti permintaannya lagi.

            Sesampainnya di apartemen, kuputar secara acak daftar laguku sembari  meredam amarahku dengan menggigit guling, namun yang ada amarahku semakin menjadi apalagi ketika lagu The Space Between yang dinyanyikan oleh Soyu ft Urban Zakapa terdengar berkali-kali, karena sudah tak tahan akhirnya kujawab panggilan masuk di ponselku itu. Ya, itu merupakan nada dering ponselku.

            “Mwoya!”  kusembur orang yang meneleponku sebelum dia sempat mengucapkan salam.

            “Tenanglah Hye Jin-ah, kenapa kau  marah-marah.”

            “Kenapa? Ini semua karena kau gege!”

            “Karena gege?”

        “Iya ini semua karena gege. Tiga kali, sudah tiga kali gege membohongiku dan membuang waktuku sia-sia, membuatku seperti orang bodoh yang menunggu sampai jam makan siang usai, tapi gege tak pernah datang!”  habis sudah kesabaranku menahan amarah dan rasa kesal yang sedari tadi bergejolak, dadaku naik turun usai mengucapkan segala kekesalanku pada orang di sambungan seberang.

            “Hye Jin-ah denngar, kau tidak melupakan perkataan gege tempo hari kan.”  Aku hanya diam tak membalas ucapannya, lebih memilih mendengarkan kata apa yang akan diucapkannya, meski aku sudah memprediksi kata apa yang akan diucapkannya. “Aku yakin kau masih mengingatnya, jadi kau tahu kan kenapa gege tidak datang.”

            “Ya, aku ingat tapi apa gege juga lupa jika aku tidak akan memakannya sebelum gege datang!”  klik. Aku sungguh tidak tahan lagi. Aaaarrrggghhh! Kulepas baterai ponselku dengan brutal lalu menaruhnya kasar ke nakas samping tempat tidurku.


***

            Ini sudah hari ketiga semenjak aku mencopot baterai ponselku, mencoba menghindarinya, tapi kurasa hatiku sedikit membaik sekarang jadi jika gege menghubungiku lagi mungkin akan aku angkat. Dan yeah, seperti yang kuduga banyak panggilan tak terjawab serta pesan yang bisa dikategorikan dalam peneroran -jika ini merupakan kasus kriminal- sesaat setelah kupasang baterai ponselku. Aku tak berniat membaca pesannya karena aku yakin inti dari pesan itu sama saja, aku lebih memilih membaca buku catatanku meski itu juga sama membosankannya. Hoaaammm… astaga tumben sekali aku sudah mengantuk padahal ini belum jam sebelas malam, kulanjutkan lagi kegiatanku sebelumnya, namun lagi-lagi aku menguap. Oh baiklah mataku sudah tidak kuat lagi, lebih baik aku tidur saja.


            Sudah kesekian kalinya pemuda itu memencet tombol bel pada pintu apartemen yang bernomor 408 ini, namun tidak ada tanda-tanda bahwa sang tuan rumah akan membukakan pintu. Hey, lagipula mana ada orang yang bertamu jam 01.00 dini hari itu kan bukan waktu ideal untuk bertamu. Jadi, jangan salahkan tuan rumah jika tidak membukakan pintu untuk tamunya itu. Pemuda itu masih berharap pintu di depannya terbuka meski ini sudah satu jam berlalu, dia juga tak hentinya menelepon ponsel si pemilik rumah, meski matanya sudah memerah dia tetap tak menyerah memencet bel apartemen di hadapannya ini, hingga akhirnya dia sudah mulai lelah dan bersandar pada pintu sembari memejamkan kedua matanya, terlelap.


            Ingatkan Hye Jin bahwa dia memiliki jadwal kuliah pagi hari ini sehingga dia bisa segera bangun bukan malah merapatkan selimutnya.

            “Hoammm…eung jam setengah tujuh.”  Dengan santainya dia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur setelah bangun tidur dan melihat jam di nakasnya. Dan astaga sempat-sempatnya dia berendam padahal dia ada jam kuliah pukul 08.20 nanti. Seharusnya dia menaruh jam dinding juga di kamar mandinya, bukan hanya di ruang tamu dan kamar tidurnya saja! Bahkan dia masih bisa menikmati acara mandinya meski bel apartemennya  terus berbunyi.

            “Baiklah, baiklah tunggu sebentar.” Aku bergegas keluar kamar mandi hendak membukakan pintu apartemenku setelah menyadari bunyi menjengkelkan dari apartemenku. Namun, langkahku semakin melambat ketika melihat jam dinding yang tergantung tepat diatas televisi yang berada di ruang tamu. Aku terpaku ditempat melihat dengan pandangan ngeri ke arah jarum jam yang terus berputar lalu kemudian beralih ke arah suara bel. 

          Tik tok tik tok, jarum jam. Ting tong ting tong, pintu apartemen. Tik tok tik tok, jarum jam. Ting tong ting tong, pintu apartemen. Tik tok tik tok, ting tong ting tong.

          Astaga rasa-rasanya aku ingin menjerit saja. Argh molla! Geramku sembari menuju pintu apartemen menghiraukan jarum jam yang terus berputar menunjukkan pukul 07.00 tepat.

CKLEK!
           
            “Eoh.”

            “Ah maaf mengganggu di pagi hari nona.”

            “Ah gwaenchana, memangnya ada apa Pak Kim?”

            “Begini nona, dari kemarin malam tuan ini berada di depan pintu apartemen anda, saya hanya ingin memastikan apakah anda kenal dengan tuan ini.”  Kumiringkan kepalaku untuk melihat lebih jelas orang yang sedang dibicarakan oleh petugas keamanan apartemen ini. Mwo! Cepat-cepat kutegakkan kepalaku ketika melihat wajahnya. Astaga dia benar-benar melakukannya. Ini sungguhan?

            “Nona…nona.”

            Segera kutarik tangan orang yang berada di belakang Pak Kim setelah tersadar dari lamunanku, sehingga membuatnya berdiri tepat disampingku.

            “Nde saya mengenalnya, maaf telah membuat keributan. Jeongmal mianhae.”  Ujarku sembari menundukkan kepalaku dan memaksa orang di sebelahku melakukan hal yang sama juga.

BLAM!

            “Ya ge, sebenarnya apa yang gege pikirkan. Arrrghhh!”  omel Hye Jin setelah menutup pintu apartemen dan duduk di ruang tamu.

            “Mianhae.”  Kening gadis itu membentuk kerutan ketika mendengar orang yang duduk disampingnya berujar seperti itu, Hye Jin tahu kalau ucapannya itu wajar tapi nada bicaranya terdengar aneh di telinga Hye Jin.

            “Hye Jin-ah…gege sungguh menyesal untuk hal yang kemarin. Gege  sudah mencoba menjelaskannya melalui ponsel tetapi nomormu tidak bisa dihubungi. Jadi Hye Jin-ah kau mau memaafkan gege tidak?”  ok suruh seseorang mengingatkan Hye Jin untuk menutup mulutnya yang sedikit terbuka *jaw drop* mendengar permintaan maaf dari gegenya.

            Kedip kedip…oh tunggu, tunggu kenapa Hye Jin malah meraih telapak tangan gegenya?

            “Ge, igeon (ini) kenapa bisa seperti ini?”

            “Mwo?”  kurasa tanggapan dari orang ini sangatlah wajar, bagaimana tidak, mengingat orang yang diajaknya berbicara malah membicarakan hal lain, hhh.

            “Hye Jin-ah…tolong lihat dan dengarkan gege dulu.”  Pinta pemuda Cina ini dengan lembut sembari menggenggam telapak tangan Hye Jin. “Jaldeuro (dengar) gege minta maaf, benar-benar minta maaf untuk kejadian yang lalu, mianhae.”  Dan akhirnya pemuda Cina itupun memutus kontak mata ketika mengucapkan kata yang terakhir. Helaan nafas berat keluar dari hidungnya usai mengucapkan hal itu, seolah tengah melepaskan beban melalui helaan nafasnya.

            “Gege.” Hye Jin pun memeluk erat pemuda disampingnya ini karena tak tahu lagi harus berbuat apa, mencoba mengungkapkan perasaannya melalui pelukan ini. Tak sengaja matanya melirik jam dinding yang terletak di ruang tamu tersebut, matanya membola melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam tersebut.

            “OMO!”














TBC
(To Be Continued)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar