Senin, 07 Desember 2015

The Real Reason We Broke Up




Author   : FIN
Genre    : Songfic, sad, hurt/comfort
Lenght   : Oneshot
Cast       : Kim Jong In | Han Eun Ri
Note      : sebenernya cerita ini based on true story, tapi jangan tanya story siapa hahaha :D, Oh iya fin sarankan agar bacanya pelan- pelan yah karena alurnya yang maju mundur , ah sudah segitu aja fin bingung mau bikin yang kayak gimana, jarang bikin author's note sih. Enjoy :)
*psst beware of typos







     ... Hal yang telah berlalu. Memikirkan tentang alasan sesungguhnya dari sebuah perpisahan.
-Musim Gugur, Korea. 2015.

   "Jongin-ah, putus."

      Dan aku terus memikirkan alasannya, karena waktu itu kau hanya berujar tanpa menjelaskan kenapa. Jadi, aku ingin tahu, apakah kau sudah mengetahuinya? Tapi kulihat kau baik-baik saja. Sebaiknya begitu, ini sudah tiga tahun kan? Aku juga semakin memahamimu, namun sayangnya kita sudah semakin menjauh.


   "Eun Ri-ya, mian oppa tidak bisa keluar denganmu hari ini, gwaenchana?"

   "Mmm...arra."


      Kau tidak akan menyukai sifatku yang seperti ini, aku yakin jika keesokan harinya kau akan marah denganku, tapi nyatanya kau bahkan tidak marah seperti dulu. Entah karena aku yang kurang mengerti bagaimana memperlakukanmu sebagai seorang wanita sekaligus pacarku, atau kau yang menuntut banyak hal padaku. Tapi semakin kita mencoba untuk memahami satu sama lain, semakin kau dan aku bosan. Hingga puncaknya kau mengatakan kalimat itu lalu pergi, dan keesokan harinya kulihat kau tengah bersama yang lain. Cih, hatiku sungguh terluka kala itu, dan aku menyadari bahwa hanya debaran yang kau inginkan, hanya awal saja kau memandangku. Kau hanya menyukai debaran sesaat yang berdegub di hatimu itu tanpa bisa membedakan apakah itu debaran yang sesungguhnya. Bodoh!



Uriga heeojin jinja iyun eobso
Niga nal saranghaju anhasseul ppun
Dareun iyun eobso
Nal saranghanjeok eobseuk ppun

Tidak ada alasan sebenarnya mengapa kita putus
Kau hanya tak mencintaiku
Tak ada alasan lain
Kau tidak pernah mencintaiku

-Musim dingin, Seoul. 2015.

      Putih, hanya pemandangan salju tebal yang menutupi jalan serta rumah dan bangunan lainnya yang terlihat, ketika kulangkahkan kaki ini keluar dari coffe shop setelah membeli secangkir espresso hangat. Seperti musim dingin yang dingin dan beku, hatiku juga perlahan-lahan membeku, toh sekarang segalanya telah jelas tentang dirimu, masa laluku.

      Aku ingat di dalam coffee shop tadi, kau bertanya alasan sesunhguhnya aku mencintaimu, kau tentu saja tidak tahu. Ya, jika kau tahu kau tidak akan pernah meninggalkanku dengan sangat mudah, seperti dulu.

Saeroun sarang kkumeul kkudeon neo
Yeongwonhan sarangeul kkumkudeon na
Baraboneunge neomu dallatdeon neowa na

Kau memimpikam cinta yang baru
Aku memimpikan cinta yang abadi
Kau dan aku sangat berbeda dalam memandang cinta


      Sekarang cintamu dan cintaku tertulis berbeda, akhir kau dan aku memyisakan hal berbeda. Aku sama sekali tak perlu melupakanmu seperti yang kau coba lakukan, meski kau tidak menyadarinya tapi aku dapat dengan jelas melihatnya dan menangkap arti dari pertemuan kita tadi. Kau menjelaskannya, tapi toh bagaimanapun juga aku yang menjadi pihak ditinggal, ditinggal sendiri di tempat ini. Aku akan bertahan sedikit lebih lama untuk meredam rasa benciku atau untuk mengingat hal tentang kita lalu melupakannya tanpa bekas. Sehingga jika kita bertemu lagi, aku akan menganggapmu sebagai seseorang yang tidak akan pernah menjadi masa depanku.







      Aku terbangun ketika kudengar dering pesan masuk dari ponselku, ini nomor asing kenapa mengirim pesan pada nomorku.

From: 010-053-xxx

  Jong In -ah, I love you.

     Mataku terbelalak melihat pesan masuk itu, hatiku kembali merasakan euforia padahal aku tak tahu siapa pengirimnya tapi aku meyakini, neorul (it's you).



     Pagi ini kulihat kembali senyummu yang hanya untukku, kau terlihat manis dengan rambut ekor kudamu serta ponimu itu, meski aku sedikit merasa risih melihatnya. Kita kembali berkencan seperti dulu, lalu ketika sore menjelang aku mengantarmu kembali ke rumahmu sebelum aku kembali pulang. Namun tidak, aku tidak pulang ke rumahku karena temanku mengajak berkumpul untuk latihan di sore hari ini.

   "Wohoooo aku menang darimu Jong, sesuai kesepakatan kau harus mentraktir kita makan."

   "Yeah, I know." aku dengan malas menanggapi perkataan dari temanku itu yang memiliki tubuh tinggi bertelinga lebar -Chanyeol, hitung-hitung sekalian merayakan kembalinya aku dengannya -Eun Ri.

   "Jong kau tahu tidak, Sehun teman mainmu itu ternyata sudah memiliki kekasih." ini menarik kelihatannya

   "Sehun, Oh Sehun?" dan si Park Chanyeol mengangguk-anggukkan kepala layaknya orang idiot 

   "Kau tahu tidak siapa pacarnya? Eun Ri si pendiam itu, kalau kupikir-pikir mereka cocok juga."

     Tanganku mengepal memahan emosi yang siap meledak seusai mendengar apa yang Chanyeol ucapkan, kutinggalkan dia di lapangan tanpa peduli protesnya tentang perjanjian tadi.






Nappeun kkumeul kkwosseo
Dasi doraon neoge daai banhan na
Meotdawri doraon neorul tto badajudwon na

Aku bermimpi buruk
Bahwa aku jatuh cinta lagi padamu dan kembali padamu
Bahwa aku menerimamu yang datang kembali sesuka hatimu

Musim semi, Korea.2013.










END






jyaa, mohon saran para pembaca sekalian, gomawo sudah membaca :)




Don’t Lean On A Blame



Author             : FIN
Length             : Twoshoot
Genre              : Angst, Sad, Hurt, Comfort, Fantasy
Cast                 : Kim Jong In / Kai
  (OC)
Oh Se Hun
Disclaimer       : All cast here Belong to themselves but the story is MINE. The poster belong to mdf
Note               : Inspired by the one sentence in the Lean On and Blame lyric. They stuck crazily in my head and BOOM! I make this fanfic as my temptation. So, enjoy my story J

Chapter 1 : Lean On
           
Not we but I, who need someone or somebody
The subject
But you, who are the part of ‘we’
Lean on…

            Dentang dari jam kuno yang kini menggema ke seluruh penjuru rumah itu dihiraukan oleh seorang gadis yang tengah menyusuri tangga dengan tergesa, lalu dengan kasar membuka pintu depan rumah tersebut. Mata gadis itu terlihat gelisah ketika tak menemukan apa yang tengah diharapkannya, hanya pepohonan dan hamparan rerumputan berwarna hijau yang didapati retinannya. Dia menghela nafas lirih, dengan gontai kembali masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah di lantai dua. Didudukan tubuhnya pada sebuah sofa dengan menumpukkan dagunya di lengan sofa tersebut, matanya kembali menerawang, memandangi halaman depan rumahnya yang nampak dari kaca tempatnya duduk kini, sekali lagi, untuk beberapa jam kedepan, bahkan ini sudah kesekian kalinya. Namun kian lama mata gadis itu memberat seiring warna awan yang kini berubah menjadi hitam pekat setelah sebelumnya berwarna cerah.
           
            “Tidurlah dengan nyenyak.”  Tubuh gadis yang bagaikan kapas itu, kini telah berpindah ke sebuah kamar. Ketika itulah tubuh gadis itu menjadi sebuah obyek, dari sebuah subyek yang kini tengah memandang sendu obyek nya.


           
            Cahaya yang hangat itu memilih untuk tidak menyapa hari ini, membiarkan awan gelap tetap menyelimuti sedari kemarin. Keadaan ini hampir sama persis dengan hati sang gadis yang terjebak dalam kegelapan. Sebuah senyuman miris tercetak dari bibir gadis itu ketika melihat pemandangan yang dilihatnya, dia serasa diolok oleh warna pepohonan dan rerumputan yang tetap hijau, tidak berubah menjadi hitam seperti warna awan yang menyelimuti pagi ini. Dia juga tertawa menyadari bahwa gelapnya awan itu tidak segelap kegelapan yang menyelimuti hatinya. Ya, kini dia tengah kembali pada kegiatannya, memandangi halaman depan dari kaca ruang tengah lantai dua, sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

            “Nona, tuan menunggu anda.”  Kuhela nafasku sebelum berdiri dan mengikuti langkah tangan kanannya yang menuntunku menuju halaman depan.

            Aku berdiri terdiam tanpa ada niat untuk berjalan mendekat kearah orang di hadapanku ini, kupejamkan mataku sejenak lalu memandangnya lelah, kupejamkan lagi mataku mencoba meyakinkan diriku sendiri tentang apa yang kulihat. Dia sudah berdiri tepat di hadapanku ketika aku membuka mataku.

            “Tidak mungkin.”  Gumamku ketika melihat warna rambutnya yang telah berubah

            “Subyek, dan itu mutlak.”  Nafasku tercekat menyadari arti dari ucapannya, sembari menahan perasaan sesak yang melingkupiku. Kucoba menenangkan diriku sebelum mengucapkan sebuah kata.

            “Kau tahu hal apa yang kubenci?”  Kujeda sejenak perkataanku ingin mengamati perubahan mimik muka orang di samping kananku ini “Hitam. Tetaplah dengan kemutlakan itu.”  Desisku pelan, membuatnya menghembuskan nafas lelah serta memandangku tanpa menunjukkan ekspresi wajah berarti, lebih memilih untuk melangkahkan kakinya, keluar dari halaman depan dengan aku, yang hanya bisa mengikutinya.

            “Tinggalkan kami berdua.” Aku hanya diam sambil memandangnya. Sedikit terkejut dengan perintahnya barusan

            “Tapi tuan-”  ucapan Chan Yeol -sang tangan kanan- terputus ketika dia memandangnya tajam, menunjukkan dominasinya “Kami akan menunggu anda disini.” Ujar Chan Yeol sembari menunduk memberi hormat yang diikuti oleh enam orang lainnya. Dan kami berjalan semakin dalam menuju hutan meninggalkan Chan Yeol dan anak buahnya di perbatasan antara hutan dan halaman depan.


           
            Nafasku kini seirama dengan langkah kami yang berjalan dengan perlahan, membuat detakan jantungku keluar dari ritme normalnya, semakin dalam hutan yang kami masuki maka semakin berat pula helaan nafas yang kukeluarkan, nampaknya aku akan mencapai titik terendahku. Mataku terbuka lebar ketika merasakan sensasi sengatan aliran listrik yang mengalir pada tubuhku, membuat jantungku kembali pada ritme normalnya, lalu kulihat tangan kananku yang kini tengah digenggam olehnya. Heh, pantas saja. Senyum miris pun tercetak ketika kusadari takdirku, takdir yang tak bisa ku sangkal.

            “Lenyapkan keinginanmu untuk menyangkal takdirmu itu.”  Suara dingin itu memasuki indera pendengaranku, dia mulai menggunakan dominasinya kepadaku, cih!

            Tapi tunggu, aku merasakan hawa yang lain ini…ini…tidak mungkin. Mataku memandang sekeliling untuk memastikan, namun hanya jalan setapak yang kulihat. Ottokhae? Ijeya ottokhae! Kulihat genggaman tangannya semakin mengerat pada telapak tanganku, bahkan langkahnya kian cepat, kupandangi lagi jalanan setapak yang terlewati itu yang kian menjauh. Namun, lagi-lagi aura subyeknya mendominasiku, membuatku mau tak mau berjalan mengikuti langkahnya. Aku harus bertindak, sebelum jalan setapak itu benar-benar lenyap dan tak bisa kujangkau lagi, tekadku.

BETZ! Tanganku berhasil terlepas dari genggamannya, dengan segera kulesatkan kaki ini menuju arah sebaliknya, sebelum detakan jantungku keluar dari ritmenya lagi. Pandangan mataku kian meredup dan perlahan menampakkan satu warna saja, hitam! Seolah mengejekku dan mengingatkanku akan takdirku kembali, bahkan hitam itu kini menjadi lebih pekat seiring nafas yang kian memberat dan suara itu, aku dapat mendengarnya dalam kepalaku.My mind in whirls, titik terendah. Tidak! Aku sungguh kesakitan, bahkan untuk keluar dari keadaaan ini aku tak mampu. Kakiku yang sebelumnya masih mampu menopang berat tubuhku, kini terasa melemah membuat tubuhku dengan perlahan oleng ke samping kiri dan menghantam tanah yang kupijak, tepat pada saat itu the wind stern in my face, membuatku menjadi obyek untuk kedua subyek. Meski nyatanya hanya ada satu subyek. Namun, bagiku hanya dia sang subyek sejati, menampilkan fakta tentang sang subyek sesungguhnya, yang memiliki warna yang paling kubenci.

            “May I, can I, or have I too often?...”  samar-samar kudengar sebuah suara dalam gelapku, suara yang kurindukan, takdir hatiku, dan bisik lirih itu  “...Wishing to be your fate.” Membuatku terhenyak, sebelum jantungku tak ada ritme, kehilangan kendali atas sistem syarafku sendiri, sampai sengatan listrik itu kembali mengalir dan terasa dalam darahku.

            “I’m sorry it’s not him, it’s me.”  Nafasku terengah ketika merasakan sensasi sengatan listrik yang maha dahsyat itu, membawaku keluar dari titik terendahku, meski pening ini masih tersisa. Pikiran dan hatiku kian menggila menghadapi bahwa pemuda bersurai hitam kelam itu adalah benar sang subyek. Oh Se Hun dengan segala kemutlakan, sang subyek. Tidak! aku benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja menyadari dia -yang kini tengah berambut pirang- berdiri di belakang Se Hun –Kai-.

But the night are long
Longing for you to come home
All around the wind blows
We would only hold on to let go
Blow a kiss, fire a gun
We need someone to lean on






TBC